Rabu, 23 Februari 2011

Naning (Nikmatnya Jilbab SMU SMA)

Payudara Putih Jilbab
Jilbab SMU SMA
Pada suatu hari, aku yang memutuskan untuk tinggal agak lama disebuah daerah diselatan Jawa, aku melihat tiga sosok gadis berjilbab putih yang sedang berjalan ditrotoar. Melihat baju seragam SMU yang mereka kenakan, pastilah mereka sedang bolos, karena saat itu masih pukul 10 pagi. Wah, anak gak baik-baik nih, kataku. Langsung otak nakalku bekerja. Dari belakangan mereka, memencet klakson motor, dan langsung berteriak, “ceeeeweeek!” pada mereka, dan langsung kabur. Mereke terlihat kaget bercampur kesal di kaca spion.
Hanya beberapa ratus meter berjalan, tiba-tiba aku merasakan motorku goyah. Wah, ban bocor nih, pikirku. Dan ternyata benar. Sial, pikirku. Terpaksalah aku turun dan menuntun motorku menuju tambal ban.

Sembari menunggu proses penambalan ban selesai, aku membeli mi ayam di depan tukang tambal ban. Ketika menunggu mi ayam yang kupesan matang, tiba-tiba datang tiga siswi sma yang tadi kugoda, masuk ke warung mi ayam yang sepi itu.
“hayoooo!! Ini dia tadi nih, yang goda kita!” kata seorang siswi berjilbab tadi. Aku hanya tersenyum simpul. :habisnya kalian cantik sih, jadi ya kugoda.” Kataku santai. Langsung aku mempersilahkan mereka duduk didekatku. Siswi yang tadi berbicara padaku mengambil tepat disisiku, sementara dua orang siswi berjilbab temannya berada didepanku, duduk berhadapan. Akhirnya aku berkenalan dengan ketiganya, sembari berbaik hati memntarktir mereka mi ayam, sekedar permohonan maaf diriku atas tingkahku menggoda mereka. Otak ngeres hunterku mulai bekerja. Aku jadi mulai horny, dan mulai membayangkan mereka bertiga ini merintih dan mendesah ketika memeknya kusodok memakai kontol besarku.
Oh ya, sekedar untuk gambaran, tiga orang gadis tadi adalah siswi sebuah sma islam didaerah itu. yang satu bernama Naning, yang cerewat tapi manis, yang tadi mengajakku berbicara, lalu Maya, si gadis berjilbab pendiam lagi pemalu yang sekal dengan kulit kuning langsat berdada montok, lalu yang terakhir adalah Sari, gadis berjilbab pendiam yang masih lugu dan manis berlesung pipit. Akhirnya percakapan kami ditutup dengan saling bertukar nomor handphone. Ketika mereka berlalu dan aku sudah kembali diatas motor binter kesayanganku, aku mulai berpikir untuk mencicipi tubuh ranum mereka.
Beberapa hari kemudian, tepatnya seminggu setelah pertemuanku dengan tiga gadis berjilbab itu, iseng kumisscall Naning, si gadis manis berjilbab yang ceriwis. Kontolku berdiri ketika kubayangkan mulutnya yang indah menyepong-nyepong kontolku. Eh, tiba-tiba ia misscall balik. Langsung naluriku berkata kalo ini waktu yang tepat. Ku sms dia. “boring nih. Kamu lagi bolos gak? Jalan2 yuk.” Tulisku. Karena memang waktu masih menunjukkan jam 09.10 pagi, jadi pastilah dia masih disekolah. Tak beberapa lama siswi berjilbab yang manis itu membalas. “sama boringnya. Ayuk. Kutunggu jam 0945 didepan sekolah ya.” Katanya. Wah, kesempatan nih. Langsung aku keluar dari hotel, naik motor, tarik gas ke smanya.
Sesampai didepan smanya, terlihat dia sedang berdiri didepan gerbang, terlihat cantik dengan jilbab putih dan sragam abu-abu putih panjang longgarnya. Ketika ia melihatku, langsung ia tersenyum. Segera aku berhenti disampingnya, langsung ia naik keboncengan motorku dan segera kami pergi dari tempat itu.

“kemana nih?” tanyaku, masih diatas sepeda motor yang melaju. “Naning manut aja mas, ikut mas.” Kata naning. Kulirik kaca spion, terlihat wajahnya yang cantik terbungkus jilbab lebar. Duduknya yang miring karena memakai rok membuatku hanya bisa melihat sesisi wajahnya, namun tetap dia cantik. Tiba2 ia menyadari pandanganku. Dengan wajah yang bersemu merah ia mencubitku kecil. “hayoo! Gak boleh lirik2! Liat depan!” katanya. Senyum malunya semakin membuat birahiku meninggi. Akhirnya setelah kutanya daerah sekitar situ yang cocok untuk berduaan, sambil malu2 ia menyebutkan beberapa tempat. Akhirnya kuputuskan ke sebuah pantai disebelah selatan kota yang memang tidak jauh dari sekolah Naning. Sekitar 20 menit perjalanan.
Sesampainya disana, langsung aku memarkirkan motorku disebuah tempat parkir yang sepi. Memang situasi pantai itu sepi, karena selain hari itu bukan hari libur dan masih pagi, kami memang memilih pantai yang tidak ramai, jadi bukan pas di pantainya yang terkenal, namun agak kebarat, disebuah pantai tak bernama.
Segera kami berdua berjalan-jalan dipinggir laut, bercerita dan bercanda. Semakin lama kami berjalan semakin menjauh dari penitipan motor dan gubug makan yang ada dipinggir pantai itu. Kami sampai dipinggir pantai, dimana dibelakang kami hanya ada hutan cemara yang pendek dan rimbun.
“emm…naning sudah punya pacar?” tanyaku memancing. Naning memandangku sambil wajahnya bersemu merah. Gadis ceriwis manis yang ebrjilbab itu hari ini wajahnya sering terlihat bersemu merah karena kugoda. Ia menggeleng. “lagi gak punya mas.” Katanya. Ia berjalan agak masuk kedalam hutan cemara menghindari sinar matahari lalu duduk ditanah yang terselimuti daun cemara yang tebal. Aku segera duduk disamping kirinya. “lagi gak punya, berarti pernah punya? Putus ya? Kenapa?” tanyaku lagi. “pacar Naning suka nakal.” Katanya. Wajahnya kembali bersemu merah. “nakalnya kenapa? Apa kayak gini…” tanyaku memancing, sambil tangan kiriku meraih tangan gadis berjilbab itu, lalu membelai dan meremasnya lembut. Ia memandangku. Tatapannya sayu, setengah ingin menolak, namun tak bisa. Tapi segera ia mengangguk. “atau kayak gini?” tanyaku lagi. Tangan kiriku berpindah ke pahanya yang masih tertutup rok abu-abu panjang, lalu meremasnya dari luar roknya. Ia mengangguk lagi. Wajah ayu terbungkus jilbab osis itu semakin memerah. Tatapannya sayu. Gadis manis berjilbab ini sudah dalam genggamanku.
“dia juga maksa megang-megang dada Naning…” bisik Naning lirih. Pemberitahuannya itu seolah meminta aku untuk meraba dadanya yang ranum, tertutup baju osis dan jilbab. Sementara itu tubuhku sudah merapat. Dadaku sudah rapat dengan sisi tubuh Naning. Tangan kananku mmemeluk pundaknya tanpa dia memberikan perlawanan.
“mantan pacar Naning nakal ya… ntar biar mas kasih pelajaran.” Bisikku ketelinga Naning. Naning tersenyum simpul. Tak tahan lagi, aku mencium pipinya yang putih mulus. Siswi berjilbab itu mendesah, sambil matanya terpejam. Namun langsung ia sedikit berontak. “jangan mas…” bisiknya. Hanya sekedar rontaan tak berarti, untuk menjaga harga dirinya, pikirku. Aku sudah berpengalaman dengan itu. Sedikit rayuan pasti menyelesaikan segalanya.

“ssstt…” bisikku. Lalu menciumnya lagi dengan lebih lembut. Kembali dia mendesah dengan mata terpejam. Rontaannya masih tersisa, namun hanya sedikit perbedaannya dengan geliat birahi seorang gadis belia yang sudah terangsang. Dengan tangan kananku, kutolehkan wajahnya yang manis kearahku. Kutatap matanya dalam-dalam. Aku ebrusaha mendapat kepercayaannya, dan berhasil. Tatapannya semakin sayu, pasrah.
Dengan pelan dan lembut kukecup bibirnya yang merah ranum, ia kembali mendesah. Ciumanku terus kulanjutkan, sembari kutingkatkan menjadi pagutan-pagutan dan kuluman kuluman. Akhirnya mulutnya mulai membuka, sembari matanya terpejam, mempersilahkan lidahku masuk dan membelit lidahnya. Tanpa basa-basi kami sudah larut dalam ciuman yang sangat panjang. Tanganku pelan2 mulai turun meraba kedua buah dadanya yang padat, dan tangan satunya membelai kepalanya yang masih terbalut jilbab putih. Merasa sesuatu ada yang menyentuh buah dadanya, Naning sedikit meronta. Namun karena pelan dan lembutnya aku memainkan tempo, akhirnya rontaannya erangsur-angsur hilang. Dari bibirnya mulai keluar suara yang kurasa adalah kenikmatannya. Aku tidak berhenti melakukan gerilya di sekujur tubuhnya. Kusampirkan ujung ujung jilbabnya kepundaknya, lalu kubuka satu persatu kancing hem osisnya. Dari baju kubuka terlihat buah dada yang padat berisi ditutupi oleh kutang berwarna merah muda, kedua tanganku beralih ke belakang tubuhnya untuk melepas BH-nya, karena aku sudah tidak tahan lagi untuk menjilati buah dadanya. “jaangan masshh…”dari bibirnya yang terlepas dari kulumanku terbisikkan kata itu. Kata yang tak berbarti, karena terlihat tubuhnya sudah pasrah.
Setelah aku sanggup melepas BHnya, aku hanya bergumam dalam hati, wah ini baru namanya buah dada, putingnya yang merah muda kecil yang seperti buah cerry langsung kulumat. Naning langsung merintih dan mendesah. Aku berani bertaruh ia belum pernah merasakan seperti itu, dan perasaannya sekarang seakan terbang ke awan. Wajahku bergantian ke kanan dan ke kiri untuk melumat buah dadanya. Ketika aku mencuri pandang kewajahnya yang ayu, dara muda cantik berjilbab putih ini terlihat semakin cantik. Tergambarkan perasaan yang campur aduk diwajahnya. Antara menolak, bingung, malu, tapi juga kenikmatan. Itu semua membuat gadis belia berjilbab ini semakin cantik, dan membuat birahiku semagin memuncak.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk bermain dengan memeknya. Aku tahu gadis ini sudah tak berkutik. Segera tanganku yang satu turun dan membelai pahanya dari luar rok panjanynga, lalu pelan-pelan masuk ke pangkal pahanya, menyentuh memeknya. Ia menggelinjang pelan. Rintihan gadis berjilbab itu semakin kerah. Segera aku sedikit mendorong bidadari sma berjilbab yang sudah birahi dan pasrah ini telentang beralaskan daun-daun cemara yang berguguran. Terasa empuk tanah tempat kami bercumbu. Segera kusibakkan roknya kepinggangnya, dan langsung kupelorotkan celana dalam putih berendanya. Gadis berjilbab itu memejamkan matanya rapat. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya, seolah berusaha menahan rintihan dan desahan birahi.
Jantungku berhenti sejenak untuk menyaksikan kulit putih yang ada di hadapanku, sekali lagi aku bergumam, aduh mulusnya tubuh putih gadis smu berjilbab ini. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka ikat pinggang dan retsletingku,. Nafasnya yang terputus-putus menandakan dia sudah tidak tahan lagi. Aku sedikit tergesa-gesa membuka celanaku, tidak ingin kehilangan kesempatan emas.segera aku menindihkan tubuhku di tubuhnya. “maassss…jangaanhh..” desis Naning walau tanpa daya.
Dimulai dengan mengecup bibir mungilnya, aku mulai kembali melakukan agresi ke bagian kemaluannya yang berbulu tipis lembut. Jariku mulai mengarah ke rerumputan di sekitarnya dan kulihat matanya merem melek menahan nikmat yang dirasakan. Beberapa saat ia memandangku. Ttapannya bercampur antara marah, malu, tapi juga birahi. “jangan maasss… ini dosaa…” katanya. Aku tersenyum. Tenang Ning.. mas sayang sama kamu.. gak akan sakit.. dinikmati aja yah sayaang…” kataku merayu, sambil beberapa kali mencium bibir, pipi, mata dan keningnya. Wajahnya yang berjilbab sudah berkeringat. Keringat birahi, pikirku.

Pelan-pelan, seiring dengan pandainya jariku membelai dan menggaruk memeknya, Pinggulnya mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan ingin mengarahkan jari-jariku untuk masuk ke tempat yang lebih dalam. Begitu jariku mulai meniti ke arah yang lebih dalam, kurasakan jariku basah oleh cairan itulah yang keluar bila seorang wanita mulai terangsang. Semakin lama aku bermain, semakin gadis alim berjilbab itu bergerak lebih agresif dengan mengepitkan kedua pahanya dan tanganku kurasakan tak dapat bergerak oleh hempitan kedua pahanya yang sangat mulus. Hingga saat yang tak kuduga dia mengeluarkan suara tersendat-sendat dengan seluruh tubuh mengejang. Naning berkata, “Akh.. Mass.. mmhh..naniiiingg…pipiiiiissshhh….” dengan ucapan yang tak ada hentinya dan kata terakhir yang panjang, “Aaahh..” dan seluruh tubuhnya mulai melemah, tergolek lemas ditanah beralas dedaunan cemara, dipinggir pantai yang sepi itu.
Aku tak mau kalah dengan situasi seperti ini, karena akulah yang ingin sekali merasakan kenikmatan tubuh mulusnya itu. Dengan senjataku yang telah siap untuk mencari mangsa dan siap untuk diberi tugas. Dengan mata yang tegang dia melihat ke arah kontol-ku, seperti ingin melahap apa yang ada di hadapannya. Naning bergumam, “Mas.. jangan maasss… ntar sakiiit…”katanya.aku agak bingung, darimana dia tahu kalau sakit. Tapi tetap langsung kutancap gas saja, secara perlahan mulai kuarahkan kontol-ku ke kemaluannya, tapi aku susah sekali untuk memulai karena mungkin baru pertama kali ini dia melakukan berhubungan layaknya suami istri. Kubuka kedua belah kakiputih gadis smu berjilbab itu sehingga tampaklah memeknya yang indah, merah muda dan ranum, ditumbuhi bulu halus.
Akhirnya kontolku mulai menemukan lubang sempit memek gadis berjilbab itu. Sedikit demi sedikit kutekan secara perlahan dan dia mengeluarkan desisan yang membuat badanku seperti bersemangat. Dengan bibir digigit dia menahan rasa, entah sakit atau kenikmatan tapi yang kutahu dia mengeluarkan kata “Sstt.. aakkhh..Mass..sakiit…mmmhhh…” aku tahu, pastilah saat pertama akan sakit, tapi birahiku sudah tinggi sehingga aku tak mau ambil pusing. Langsung kugenjot saja kontolku kedalam memeknya. Jeritannya terdengar ketika aku dengans edikit memaksa berhasil menembus selaput perawannya, membuat air mata terlihat muncul menetes kesamping kiri kanan matanya. Tapi genjotanku yang tetap kuteruskan, sembari kutambah dengan rangsangan di buah dada ranumnya juga ciuman disejukur penjuru tubuhnya membuat rintihan dan erangan kesakitannya pelan-pelan berubah menjadi desahan birahi dan kenikmatan. “hhh…mmhh..heegghh.. oohh..oh..oh..ah..” bibirnya sedikit terbuka dengan mata yang tertutup, basah dengan airmata. Siswi smu yang berjilbab itu merintih2 kugenjot memeknya dibawah rimbunnya hutan cemara dipinggir pantai yang sepi itu.

Kuangkat kedua tangannya dan kutaruh agar memeluk punggungku. Wajahnya yang berjilbab ebrkeringat. Aku makin bersemangat bergerak maju dan mundur secara perlahan-lahan, semakin terasa kontol-ku mudah melakukan gerakan maju-mundur di dalam vaginanya, maka semakin kencang dan nikmat aku beradu untuk mencapai kenikmatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Setelah beberapa saat aku merubah gaya bermainku dengan kedua kakinya kuangkat tinggi di bahuku. Dan permainan berlanjut dengan desahan-desahan nikmat. Kuperhatikan wajahnya yang cantik berjilbab epperti menahan sakit atau apa, kedua tangannya mencengkeram erat kakinya sendiri yang terangkat dikiri kanan pundakku dan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan kata-kata yang tak menentu, “Aaakkhh.. Mass.. aduuhh..udahh..mmhh.. Mass.. aahhkk.. akuu.. udahh.. gaakk.. tahaann nihh.. aduhh.. Mass.. enakk Mas..” gadis siswa sma yang berjilbab itu meracau tidak karuan antara menolak dan menikmati permainanku.. Keringat mulai keluar di sekujur tubuh kami dan sudah tak terhitung berapa kali kontolku keluar masuk ke vaginanya. Tanganku yang tak pernah berhenti memutar, menekan dan meremas buah dadanya bahkan sekali-kali aku melumatnya dengan nafsu yang membara, dia pun setengah berteriak, “Aahk.. Maass.. uuhggk.. Mass.. eemmhh..” begitu seterusnya.
Dan aku merasakan ada sesuatu yang menjepit keras di kemaluanku, rupanya gadis belia berjilbab itu sudah akan mencapai puncaknya. “Aaahhkk.. Mas.. aku.. pipisss lagiihhhh… Mas.. aahhkk.. uughh.. Maas..!” sambil memeluk erat tubuhku dan terasa kuku-kukunya mencabik pundakku. Aku hanya mendesis sejenak, setelah dia sudah keluar, aku mulai dengan kegiatanku semula. Secara perlahan aku mulai menggoyangkan pinggulku maju-mundur secara teratur, dia merasakan kesakitan atau kenikmatan aku tak tahu, yang jelas tubuhnya terasa mengikuti ritme goyanganku. Kemudian aku berganti posisi. Aku duduk selonjor bersandar pada batang cemara. Kedua kakiku kuluruskan, lalu kutarik tubuh Naning keatasku. Gadis sma berjilbab itu membengkangkan kedua pahanya dan tangannya meraih kontol-ku dan memasukkan ke dalam vaginanya. “ahh..kamu sudah mulai pintar, sayaang…” bisikku ketelinganya. Langusng kusibakkan jilbabnya keatas,s ehingga buah dadanya yang tadi tertutup kembali terlihat. Kusedot dan kujilat-jilat, menanti masuknya kontolku kememeknya. “Blep..” begitulah kira-kira antara pertemuan dua kemaluan yang sangat cocok sekali seperti mur dan baut.

Dengan perlahan dia menggoyangkan pinggulnya ke atas dan bawah, “Aaahhkk.. eemmhh.. enak Mas..oouugghh…” sambil kedua tanganku terus membelai dan melumat salah satu dari buah dadanya itu. Rupanya murid baru yang berjilbab di mata pelajaran seksku ini benar-benar pandai. dia semakin pandai menggoyangkan pinggulnya yang indah bagaikan body gitar, membuat kontolku terasa dipelintir-pelintir. Aku mulai tidak tahan dengan irama permainannya yang sungguh nikmat sekali. Mulutku semakin gencar menikmati buah dadanya yang ranum. Goyangan kami berdua semakin cepat. Aku tahu gadis berjilbab ini akan meraih orgasmenya yang ketiga, dan sepertinya kontolku juga akan menyemprotkan laharnya.
“Ssst.. aahk.. Mas…. aku mau pipis lagiihhh.. teruss.. Mas cium teruss.. Mass.. aahhkk..”
Sambil aku berhitung, “Satu..”
“Aaahkk..” ucapnya.
“Dua..””Uuughh Mass.. iiyaa.. Mass.. aakuu.. aakkhh..””Tii.. gaa..”
Kami bersama-sama mengeluarkan kata, “Aaahkkggk..” dan berpelukan erat sekali seperti tak ingin menyiakannya, kontolku memuntahkan laharnya. Naning masih terus menggoyangkan pinggulnya, sambil tubuhnya mengejat-kejat.
Sampai akhirnya kami lemas terkulai berdua ditanah itu. Setelah beberapa saat kulirik keadaannya. Gadis siswi sma itu terlentang. Bajunya awut2an. Dadanya yang terbuka memperlihatkan buah dada yang penuh air liur dan cupanganku. Jilbabnya sudah tersingkap kelehernya, basah oleh keringat kami berdua. Roknya yang tersingkap tanpa memakai celana dalam memperlihatkan memek yang sudah basah oleh air cintanya, spermaku dan bercak-bercak darah keperawanannya. Terdengar isak tangis tertahannya. Kudekati wajahnya, dan kucium dengan penuh rasa sayang. “maafin mas yah… mas lepas kendali..” bisikku. Padahal sebenarnya memang menikmati tubuhnyalah rencanaku. Ia mengangguk pelan. “nggak papa mas.. Naning juga salah… naning cuman takut hamil..” katanya lagi, masih terisak-isak kecil. “tenang sayang…mas sayang kamu… nanti mas belikan obat anti hamil yang manjur…” bisikku ketelinganya yang masih memakai jilbab. Nikmat sekali gadis alim berjilbab ini.

SUMBER Naning (Nikmatnya Jilbab SMU SMA)

0 komentar:

Poskan Komentar

paling mesum minggu ini

sex